Hakikat Penderitaan


Sakit kerap dianggap sebagai kesusahan atau derita. Pada sebagian orang dewasa, sakit dianggap sebagai aral yang merintangi kehidupan. Kesal dan marah pada derita yang didapat. Saat itulah seorang bayi sangat dibutuhkan untuk mengingatkan perihal Hukum Pertumbuhan; bahwa kesakitan merupakan cara tubuh dan jiwa memunculkan potensi baru. Yang mana jika diingat, mungkin tak ada lagi yang akan meratapi dan menghujat derita melainkan mensyukuri.

Derita adalah pintu bagi munculnya kebahagiaan (Hukum Pertumbuhan II). Sayangnya tidak semudah itu, pikiran manusia kerap kali melenceng dan ada saja pandangan negatif tentang derita itu sendiri.

Dari manakah datangnya kesusahan, kemanakah perginya kebahagiaan?

Kesusahan disebabkan oleh pemberhalaan. Pemberhalaan terjadi jika menganggap yang terbatas sebagai tak terbatas. Pun, kesusahan ditentukan dari pemaknaan atas kegagalan. Kerapkali manusia mengukur kehidupan dengan keinginan pribadi. Cara hidup itulah yang amat keliru.

Kesusahan atau kegagalan yang sakit sebenarnya adalah sebuah jalan yang mewujudkan jati diri, baik atau buruknya.

Jalan terbaiknya adalah terus bersyukur atas apapun yang didapat.

*La Tahzan for Teens



.

.

P.s: Hi fellas! I’m sorry to late comeback. Jujur, gamang sekali buat posting sesuatu bahkan nulis pun enggan walaupun ide semrawut di kepala tapi apalah daya. Ini edisi bersihin draft doang sih sebenernya hehe:):)

Ellen Kim

image

Badan Ellen menggigil. Matanya menatap nyalang, nyaris liar. “Aku tidak tahan duduk menunggu di sini.”
“El, tinggallah di istana saja!” Jimin memohon.
“Kalau dia terluka, dia bisa berada di mana saja, Jim, dan keadaannya bisa seperti apa pun. Dia begitu ceroboh, ditambah lagi kita kekurangan orang untuk mencarinya.”
Akhirnya Jimin mengalah. “Baiklah kalau begitu. Jadi, kuperingatkan untuk tiap orang agar membawa senapan dan banyak peluru.”

Jimin, Ellen, Namjoon, dan Hoseok lalu berangkat menyeberangi sungai dan melintasi pemandangan yang hancur lebur. Di mana pun tak tersisa sesuatu yang berwarna hijau atau cokelat. Yang tampak hanyalah lapisan arang hitam yang terbentang sejauh mata memandang. Anehnya, di sana-sini masih tampak uap mengepul, walaupun hujan telah mengguyur selama berjam-jam. Setiap daun di pohon mengerut, bagaikan tali lunglai yang keriting, dan di tengah padang yang tadinya ditumbuhi rumput, tampak onggokan hitam di sana-sini, satu-satunya yang tersisa dari lembu jantan atau babi hutan yang terjebak dalam kebakaran.

Namjoon dan Jimin memimpin rombongan kecil itu, disusul Hoseok dan Ellen. Sesekali kuda-kuda itu saling mendekat atau menjauh begitu melihat sesuatu yang menakutkan, tapi hal ini sepertinya tidak berpengaruh terhadap mereka. Lumpur membuat perjalanan mereka lamban dan sulit, tapi rumput yang hangus itu terhampar di tanah, bagaikan permadani sabut kelapa yang bisa jadi pijakan bagi kuda-kuda itu. Tiap beberapa meter, mereka berharap Kim Taehyung akan muncul di cakrawala, tapi waktu berjalan terus dan harapan ini tak pernah terkabul.

Hati mereka ciut saat menyadari bahwa kebakaran itu diawali lebih jauh dari yang mula-mula mereka perkirakan. Awan-awan badai pasti telah menyamarkan asap sampai kebakaran itu menjalar cukup jauh. Tanah perbatasan itu benar-benar memukau. Satu sisi garis yang tampak tegas, tanah tampak sama seperti biasa mereka lihat, cokelat, kebiruan, dan suram di tengah guyuran hujan, tapi hidup. Namjoon berhenti dan berbicara kepada yang lain.
“Di sinilah kita mulai. Aku akan ke arah barat dari sini. Jimin, kau ke selatan, mengikuti garis batas kebakaran. Hoseok, kau ke arah barat daya dan Ellen, ikuti garis batas kebakaran yang mengarah ke utara. Apa semua sudah membawa banyak amunisi?”
Mereka mengangguk mantap, dan Hoseok berkata dengan keraguan di matanya, “Hujan ini menyulitkan kita melihat jauh, dan di beberapa tempat terdapat banyak pohon, aku khawatir ini akan sulit.”
“Ya, aku setuju,” kata Namjoon. “Kalau begitu, sering-seringlah memanggil. Dari tempatnya berada, Taehyung mungkin tak bisa melihat kalian, tapi dia bisa mendengar suara kalian. Tapi ingat, jangan menembak kecuali menemukan sesuatu, sebab si bodoh itu tidak membawa senapan, dan kalau ia sampai mendengar tembakan dan berada terlampau jauh sehingga suaranya tidak terdengar, dia akan sangat menderita.”

“Berhati-hatilah, El dan kalian juga, hyung,” kata Jimin.

Bagaikan musafir yang tiba di persimpangan jalan terakhir, mereka saling berpencar di tengah guyuran hujan, semakin jauh, semakin mengecil, sampai masing-masing lenyap dari pandangan, menyusuri arah yang telah ditentukan.

Ellen baru bergerak sejauh tujuh ratus meter saat ia melihat gerombolan pohon hangus yang berada sangat dekat dengan garis batas kebakaran. Selain itu, ada sebatang pohon wilga yang hangus dan berkerut mirip alat pengepel, dan sisa-sisa tunggul besar yang berdiri tak jauh dari garis batas yang hangus itu. Ternyata yang dilihatnya adalah kuda milik Taehyung yang teronggok menyatu dengan tunggul pohon gum, dan juga dua dari anjing-anjing kerajaan yang telah berubah menjadi benda-benda kaku dengan keempat kaki tegak ke atas, mirip ranting.

Ellen turun dari kudanya, dan sepatu botnya langsung melesak di lumpur sedalam mata kaki, lalu mengambil senapannya dari sarungnya yang tergantung di pelana. Bibirnya bergerak-gerak menggumamkan doa sementara ia melangkah terseok-seok melintasi bongkahan-bongkahan arang yang lengket. Kalau saja bukan karena kuda dan anjing-anjing tadi, ia bisa berharap bahwa seorang pengembara atau musafirlah yang terjebak api. Namun, Kim Taehyung pergi menunggang kuda dan membawa serta lima anjing bersamanya. Lebih jauh dari situ tampak tiga lagi sosok anjing yang hangus terbakar.
Tak jauh dari sosok kuda itu, tersembunyi di balik batang kayu, tampak sosok yang tadinya seorang laki-laki. Tak salah lagi. Berkilau dan mengilat di bawah guyuran hujan, benda hitam itu tergeletak telentang, dan punggungnya melengkung bagaikan busur sehingga bagian pinggangnya tertekuk ke atas dan tidak menempel ke tanah, kecuali bagian bokong dan pundaknya. Kedua lengannya terentang dan tertekuk di bagian siku. Jari-jari tangan dengan daging yang terlepas hingga tampak tulang-tulangnya yang hangus, seolah-olah hendak merenggut dan meraih sesuatu. Kedua kakinya juga terentang lebar tetapi lentur di bagian lutut. Kepalanya menengadah tanpa bola mata ke arah langit.

Untuk sesaat, pandangan mata Ellen yang jernih menatap ke sosok abangnya. Ia bukan melihat sisa jasad yang hancur, melainkan manusianya sendiri seperti saat masih hidup. Wanita itu seolah-olah telah berubah menjadi batu, matanya berkaca-kaca bagaikan bola kristal milik cenayang.
“Kenapa kau menambah dukaku, Kak?” desah Ellen akhirnya, lalu menengadah menatap air hujan yang mengalir di wajah dan rambutnya yang menempel di seputar lehernya, bagaikan anak sungai keemasan.
Ellen mulai terisak, ia berjongkok di depan mayat kakaknya dan berkata dengan suara yang amat lirih, “Aku sudah bersusah payah menganggap ringan semua masalah di istana, dan kau malah pergi dan menambah lukaku, Kak! Bangunlah, Kim Taehyung! Bangun, kubilang!” Ellen mulai terisak sambil terus meronta, memohon agar jasad Taehyung mau bergerak demi dirinya. Namun, perkara itu amatlah mustahil.

.
.

End.

Blank Space

image

Jussy terlonjak dari sofa krem yang ia duduki saat Jacob mematung di beranda rumah bersama Sersan dari Los Angles dan dua orang polisi. Begitu juga dengan ayah dan ibunya yang melempar tatapan tajam, membuat Jacob mengerut seketika.
“Dia itu pejuang bernyali sampah! Jaga dia baik-baik, eh? Atau, dia akan menyebabkan kekacauan untuk dirinya sendiri.”
Sambil berbicara, ia melepas rantai belenggu yang membelenggu Jacob lalu mendorongnya dengan kasar melalui pintu gerbang depan.
Jacob tersandung, ia menoleh dan memandang ibunya yang tak bergeming, sementara ayahnya tampak sangat murka. Dan, Jussy yang tampak cemas. Mata yang hitam itu menatap mata adiknya yang kelabu, bertukar kegetiran yang tak pernah terucap. Namun, yang paling sulit bagi Jacob adalah bagaimana harus menghadapi Jussy. Ia merasa begitu malu, bagaikan burung yang dibawa pulang tanpa sempat menjelajahi langit, dengan sayap terpotong dan kicau yang dibungkam. Ia gagal menunjukkan sisi baik dirinya pada kakaknya, kendati pun hanya menjadi pengacau, pembuat masalah, atau pembawa kesialan. Opsi yang tersedia tinggallah, menghindar.

Saat malam tiba, Jussy memanjat keluar dari jendela dan berlari ke halaman belakang. Dia tahu di mana Jacob berada. Tinggi di atas tumpukan jerami di gudang, jauh dari mata yang mengintip.
“Jake, di mana kau?” panggil Jussy berbisik sementara ia berjalan tersaruk-saruk di tengah kegelapan gudang. Jari-jari kakinya menjelajahi tanah yang tidak begitu dikenalinya dengan kepekaan hewan.
“Di sini, Kak,” jawab Jacob lesu. Suara itu tidak mirip dengan suara Jacob biasanya, tanpa semangat sama sekali.
Jussy mengikuti suara itu dan mendapati adiknya berbaring di atas jerami. Ia lalu berbaring merapat di sisi Jacob sambil merangkulnya. “Jangan pedulikan Ayah,” ujarnya.
Jacob berusaha berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris tidak terdengar akibat keputusasaan “Aku tidak menyakiti siapa pun, Kak! Mereka yang memulai.”
Jacob mengerang lalu beringsut di jerami sampai kepalanya lebih rendah dari Jussy, dan menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya. Jussy mengusap rambut Jacob dan berkata lirih, “Aku mempercayaimu, Jake.”

Suasana terlampau gelap untuk bisa melihat gadis itu, dan rasa simpatinya yang meluruhkan hati Jacob. Ia mulai menangis. Tubuhnya terguncang pedih, dan air matanya membasahi piyama tidur Jussy.
Sementara, Jussy tidak menangis. Ia harus menjadi dewasa agar ia bisa menyalurkan sukacita ke dalam jiwa adiknya. Jussy duduk sambil membuai kepala Jacob, berharap esok kesedihannya lenyap ditelan kehampaan.

Hi Zee!

image

Firstly, big thanks to Kak Putri (La Princesa) selaku pemilik game dan salam kenal juga. And, thanks too buat Kak Eci (namtaegenic) dan (anonimjeon) yang sudah ngetag aku, haha. Sekedar info, ini cuma wacana tidak bermutu, jadi harap tidak scroll ke bawah😂😂
Go away,pls/bhayy😂🙌

.
.

1. What kind of insect is Zee most annoyed of? All kind of insect.
2. How does Zee relieve her stress? Sleeping.
3. What kind of top (clothing) does Zee like to wear? Flanel.
4. What is Zee hate the most during summer? Sweat.
5. What is Zee’s favorite dish? Meatball.
6. What is Zee’s favorite animation movie? Detective Conan.
7. Who is Zee’s favorite singer? Avril Lavigne.
8. What is Zee’s favorite flower? Cherry Blossom.
9. What is number one on Zee’s bucket list? 🙂
10. What is Zee’s favorite color? Grey.
11. What is Zee’s favorite color of clothing? B&W.
12. What is Zee’s favorite sport? Basketball.
13. What kind of weather does Zee like when she goes for a walk? Cloudy.
14. What is Zee’s zodiac sign? Aries.
15. What song is Zee listening to while she is writing this question? BTS – Save Me.
16. How tall is Zee? 157 cm.
17. What flavor of maccaron does Zee like most? Never been eating some.
18. What is Zee’s favorite thing to do? Reading, thinking, sleeping.
19. When is Zee’s birthday? 0324.
20. Where was Zee born? Jakarta.
21. How long has Zee been using her current cell phone number?  Idk, maybe four years.
22. What was Zee’s childhood dream? 🙂
23. What does Zee think about when she takes a shower? 🙂
24. What is Zee’s favorite beverage? Coffee.
25. Which country does Zee want to go? Japan.
26. What is Zee’s favorite item? Notebook.
27. What is the name of the movie that made Zee cry the hardest? None.
28. What is Zee’s favorite fruit? Watermelon.
29. What is Zee’s favorite dessert? Ice cream cake.
30. What kind of weather does Zee like when she takes a nap? All kind weather haha, maybe rainy day.
31. What is Zee’s favorite amusement ride? Swing ride.
32. What is Zee’s favorite fashion item? Watch.
33. What is Zee’s favorite number? 3.
34. What is Zee’s favorite letter? Z.
35. What is the most number of hours Zee slept before? 3 hours.
36. Which language is Zee most interested in? Japanese.
37. What kind of animal is Zee hate the most? Hewan melata, especially snake.
38. What food does Zee not eat? Chicken.
39. What was the last movie Zee watched in theater? Seriously, sudah berbulan-bulan aku ngga nengokin bioskop😂
40. What is Zee’s favorite city? Kutub Selatan. Itu bukan kota, ya? 😂
41. What is Zee’s favorite ice cream? A mix of chocolate and coffee.
42. Who is Zee’s Indonesia favorite author? None.
43. What does Zee want to do most in Japan (you can change the country based on your answer from #25)? Kuliah and working as Detective like a Conan or Akane😂😂
44. What does Zee do before she goes to bed? Dating my smartphone (the same as Kak Eci) 😅
45. How long was the distance of Zee’s first marathon? I can’t remember.
46. What is Zee’s favorite poetry (please insert link if any)? A Tears and a smile by Khalil Gibran.
47. How many times has Zee been stung by a bee? Never been there before.
48. What is Zee’s favorite day of the week? Saturday.
49. How many pets Zee has? Nothing.
50. How does Zee sleep? Lights off – listening music – gegulingan – bangun – ngopi, finally, ngga tidur sampai pagi. LOL😂😂

Yas, done! And I’m tagging none, simply because I’m kinda busy to open wp for the past week (and maybe for the next  weeks), so yeah, daripada aku ngetag dan aku gak sempet baca, gak enak😦 jadi gak usah ya.

See ya,

image

Of Retro

image

Waktu Ara melangkah masuk, Retro menatapnya tanpa berkedip, bahkan nyaris tidak mengenalinya. Sudah lima tahun sejak ia terakhir berjumpa dengannya. Wajah Ara belum banyak berubah selain lebih matang. Namun, sikap manisnya telah lenyap, bergantikan sikap tajam dengan tekad kuat dan keras kepala. Kecantikannya masih tetap memesona seperti dulu, matanya masih berwarna keemasan dan rambutnya yang hitam legam berkilau.
Yang paling membingungkannya adalah, Ara tak mau memandangnya cukup lama untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Setelah Ara duduk di kursi, Retro dapat melihat secara keseluruhan dan menyadari bahwa pergelangan kaki dan betisnya dibalut perban.
“Ara! Apa luka di kakimu parah? Atau, apa ada luka lain?”
“Ya, cukup parah,” jawab Ara. “Berhari-hari berada di medan perang, apakah aku akan baik-baik saja? Tentu saja, ada luka lain yang lebih parah.” Suaranya terdengar keras dan dingin.
“Apa yang terjadi?” ulang Retro dengan tak sabar, cemas, dan takut.
Ara mengalihkan pandangan dari kakinya, lalu menatap Retro dengan tajam. Sorot mata Ara begitu menakutkan, begitu gelap dan dingin, hingga tengkuk Retro merinding dan secara otomatis ia merabanya.
“Ayah mati,” kata Ara.
Tangan Retro terjatuh di pangkuannya bagaikan boneka kain, sementara ia terhenyak di kursi. “Mati?” ia bertanya perlahan. “Ayah mati?”
“Ya. Dia terbunuh dengan empat anak panah di jantungnya.”
Retro membungkuk ke depan dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Mati?” Ara mendengarnya samar-samar. “Ayah mati? Tidak mungkin!”
“Sekarang, Ibu seperti kehilangan kewarasannya,” imbuhnya kaku.
Begitu banyak perasaan bercampur aduk dalam mata Retro: kelembutan, belas kasihan, shock, dukacita. Tetapi, kedua mata yang waras, logis, dan masuk akal itu tidak meronta.
Sementara, tunik sehijau apel Ara berkemam kaku di balik tubuhnya yang semakin kurus.
“Aku kemari bukan untuk melihat kesedihanmu,” kata Ara tanpa memandang Retro. “Kesedihanmu takkan bisa membuatku terharu.”
Namun, saat Retro mendongak, hati Ara yang keras dan dingin itu mendadak terlonjak, pedih, bagaikan diperas.
“Lantas, apa yang bisa kuperbuat?” ia bertanya dengan tenang, menekan emosinya sendiri dan mengenakan topeng sebagai saudara yang lebih tua tiga tahun dari Ara.
Ara terhenyak, tertegun, dan murka, lalu menggeleng-geleng sambil setengah tersenyum, seolah-olah sedang melihat kejenakaan benda mati yang tak mungkin dipengaruhinya. Kemudian, ia gemetar, menjilat bibir, tampak seakan telah membuat keputusan, dan duduk tegak dengan kaku.
“Darah siapa sebenarnya yang mengalir di tubuhmu?” ia bertanya. “Apa selain lemah, kau juga bodoh?”
Retro menatapnya dengan pandangan kosong. Seakan ingin menggumamkan sesuatu tapi tidak ada kata yang lolos dari rahangnya. Ia tertunduk lemah, tanpa daya.
Ara bangkit berdiri, menghampiri Retro yang terpuruk di kursinya yang berlapis kain brokat merah, memegang tangannya, membungkuk, dan terisak. Nafasnya mengembun di atas bibirnya.
Seakan baru saja terdengar lolongan panjang, jeritan jiwa busuk yang melintasi gerbang Neraka dan seakan menusuki rungu pemuda itu. Retro jatuh dari kursinya dan menangis pilu, meringkuk di atas permadani merah di tengah lipatan tunik keemasan. Wajahnya tersembunyi di balik kedua lengan yang terlipat, dan tangannya meremas-remas rambutnya.
“Ya, menangislah!” kata Ara. “Menangislah, setelah kau tahu sekarang! Sudah sepantasnya begitu untukmu. Betapa baiknya ketololan yang kau ternak sehingga tumbuh menjadi bibit unggul yang membuatmu melupakan tanggung jawabmu. Menangislah, Kakakku Sayang! Untuk kematian ayah kita!”
Ara duduk di kursi, bersikap kepala batu dan tanpa ampun, mengamati sosok Retro yang meringkuk tenggelam dalam kepedihan di lantai itu. “Bukan ayah yang seharusnya pergi ke medan perang! Bukan dia yang seharusnya melindungi Kerajaan!”

Jam perunggu di atas rak perapian pualam berdetak dengan nyaring, layaknya musik latar di antara konversasi Retro dan Ara.
Retro berusaha melihat kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Terlampau banyak, itulah masalahnya. Fisiknya yang lemah, ambisi kosong, kesombongan atas takhta yang akan dianugerahkan padanya, bercampur aduk. Ia mengumpat diri sendiri dengan getir. Dasar bodoh! Seharusnya kau bisa menjadi kuat dan menunaikan tanggung jawabmu. Bukan sibuk dengan segala kesombongan yang menjijikan dan ambisi kosong. Bodoh! Bodoh!

Ruangan itu terasa sarat dengan pekikan kecil, gemerisik, dan bisikkan. Jam itu berdentang seirama dengan jantung Retro. Setelah itu, tak seirama lagi, detak jantungnya telah keluar dari irama. Ara bangkit berdiri sambil terhuyung, seolah-olah berenang di tengah kabut tipis dengan wajah ketakutan, mengatakan sesuatu yang tak mampu didengarnya tapi terasa nyaris membunuh Retro dengan sekali sentakan saja, “Ini salahmu karena tidak berguna!”
Kilatan dukacita di balik mata Ara menyiratkan kepedihan yang tak berujung, entah untuk mengasihani Retro atau dirinya. Ia kelewat jengah menelan kegetiran yang tersuguh di dalam alur kisah hidupnya. Sementara, Retro tak pernah bisa kembali dalam dekap kehangatan dan bayangan kenyamanan yang telah lesap ditelan Bumi. Mereka terluka, tapi tidak ingin saling menghibur atau mengobati.

.
.

End.

Zee

Romantic Graduation

image

Fajar baru berangsur merekah dan langit masih gelap. Suasana riuh rendah gemerisik udara berayun di antara ranting-ranting kering.

Seseorang sedang muntah-muntah di beranda dan di bawah pohon bottle brush, sepasang kekasih sedang berpelukan dengan erat. Shan berjalan menghindari kedua orang itu. Ia melangkah dengan diam melintasi lapangan rumput yang baru dipangkas. Pikirannya begitu kacau, hingga ia tak tahu dan tak peduli apa saja yang ia lewati di sepanjang jalan.
Angin bertiup semilir, aroma semerbak bunga boronia dan mawar mengambang, membelai kesunyian yang hanya dikenal alam tropis dan subtropis.

Shan berhenti di tepi lapangan sekolahnya, memandang rumput dan beralih ke langit, seakan-akan sedang mengawasi keduanya.
Apa yang bisa diketahui dan diduga oleh Shan? Hanya kesia-siaan dan kesendirian. Keraguan, serta kepedihan.

Shan berjalan mengitari sekolah dan berhenti di taman belakang sekolahnya. Panorama taman yang bermandikan cahaya bulan berkilau oleh tetesan embun di atas rumput. Pohon getah ghost gum berubah keemasan, sedangkan bunga-bunga mawar merah, merah muda, dan putih menjadi keunguan. Semuanya tampak kaku dalam kemilau jingga.

Sementara, di bawah naungan pohon ara, seorang pemuda bersandar. Mungkin terlelap.
Nafasnya yang berhembus teratur tanpa gestur lainnya, tampak tenang. Tidak terusik apapun.
Shan mulai bisa mengenali pemuda itu, saat wajahnya yang ditutupi jaket biru tua tersingkap dibawa angin. Aji, namanya.

Matanya tertutup indah. Anak rambutnya melambai-lambai karena arus angin, seakan memanggil Shan. Nalurinya menurut, Shan mendekat, menyentuh puncak kepala Aji dengan hati-hati. Kemudian, kelopaknya bergerak dan membuka dengan cepat. Tanpa sempat menarik tangannya, Aji sudah kepalang menarik lengannya hingga mengikis jarak antara kedua wajah mereka.
Aji memelototi Shan tanpa melepaskan cengkeraman tangannya pada kulit pucat Shan, “Apa yang kamu lakukan?”
Shan hanya menggeleng.
“Acara kelulusannya akan dimulai tiga jam lagi, lalu sedang apa kamu? Memasang bom? Sabotase, atau— ”
Shan menyela dengan ekspresi datar, “Apa aku seperti teroris?”
Sorot mata Aji melembut, sambil menggerutu jenaka “Ya, aku, kan cuman tanya.”
Shan menatap Aji dengan pandangan aneh yang terhalang ketidakmengertian. Mendadak ia berpaling ke samping, menyadari Aji tengah menatapnya juga.
“Tanganku, bisa tolong lepaskan?”
Aji menggedikkan bahunya, “Kenapa?”
Shan terbelalak dengan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Aji. Ia seakan baru saja mendengar pertanyaan dari seorang idiot dari jajaran orang teridiot di dunia. Jika boleh ia meninju wajah Aji, akan ia lakukan dengan senang hati. Itupun jika ia tidak ingat atas apa yang terjadi di dalam rongga dada dan kepalanya. Detakan jantung yang tidak terkendali, serta kepalanya yang terasa berputar-putar.

Setelah menit demi menit tanpa ada konversasi dan gestur. Akhirnya, Aji mencengkeram lengan Shan dengan kuat. Shan terbelalak, ingin berteriak karena kesakitan namun bungkam saat ia jatuh tepat dipelukan Aji.
Aji merangkulnya seakan mereka sudah sangat akrab. Ia berbisik dengan amat pelan, “Aku tahu semuanya. Jangan tolak aku, apapun alasannya.”
Shan bergeming. Gejolak dalam dirinya bergelung aneh, antara ketakutan dan keingintahuannya terlampau sulit ia kontrol. Shan goyah di bawah naungan emosinya.
“Katakan sekali saja, kalau kamu suka aku.” Kata-kata itu tidak dijawab Shan. Pikirannya menguasai akal sehatnya. Ia melepaskan tangan-tangan Aji dari lehernya, mendorongnya dan berusaha melihat matanya.
“Bahkan kita tidak saling kenal,” ujar Shan hati-hati.
Cengiran lebar Aji berpendar pada wajahnya yang diselimuti kantuk, “Itu akting. Apa aku kelihatan keren?”

Shan menutupi agresifitasnya dengan tenang. Gadis itu menolak memarahi Aji dengan emosi yang meledak-ledak dan memilih berpaling, kemudian pergi. Namun, baru beberapa langkah  tungkainya merajut, sepasang tangan Aji menghentikannya lagi. Kali ini bukan lengan Shan yang disitanya, tapi seluruh perhatian Shan.
Aji yang berperawakan lebib tinggi dari Shan dengan leluasa memeluk gadis itu tanpa izin. Ia memeluk Shan dari belakang, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan daun telinga Shan.
“Kamu mau pergi saat mendapat pengakuan cinta dari seseorang. Tidak sopan,” ujarnya.
“Tidak lucu!”
Tanpa memedulikan kekesalan Shan, Aji berkata “Aku suka kamu dari di hari pertama aku ketemu. Hari perayaan ulang tahun sekolah, tiga tahun yang lalu.”
Shan tidak menjawab. Dia sedang memikirkan konfrontasi dengan pikirannya sendiri.
“Aku kenal kamu lebih baik dari siapapun,” imbuh Aji saat Shan tidak berbicara apapun padanya.

Shan tersenyum samar. Senyum untuk kekonyolan dirinya sendiri, ia merasa lemah dan enggan beranjak dari pemuda itu. Membiarkan Aji merasuki dirinya dan menempati titik pada barisan sesuatu yang ia suka. Hingga detik berikutnya, bergulir lebih lambat dan kosong. Namun, terasa manis, berat, dan memabukkan seperti aroma bunga mawar yang bermekaran. Serta, lebih misterius ketimbang teka-teki jigsaw.

“Aku menyukaimu, Shan.”

.
.

End.

.

*First, Congratulation for graduation, bagi yang se-angkatan sama zi, pastinya.
Sudah lama tidak spam di rumah sendiri/ihik:D
*Zi mau minta maaf untuk semua Aji dimanapun kalian berada, minjem namanya untuk dinistakan/whahaha
*seandainya realita bisa ditulis dg mudah layaknya cerita fiksi/lahh?😂😂